Penggunaan GPS Membuat Sistem Navigasi Otak Kita Menjadi Lemah

Penggunaan GPS Membuat Sistem Navigasi Otak Kita Menjadi Lemah

Skil navigasi atau keterampilan mencari jalan dapat berbeda antara setiap orang. Ada di antara kita yang efisien, dan mudah untuk menemukan jalan ke tempat yang ingin dituju atau mencari jalan yang benar jika tersesat. Ada pula di antara kita yang sudah lewat jalan yang sama puluhan kali pun masih tak ingat dan sering tersesat sehingga tidak dapat keluar.

Kemampuan yang berbeda ini sebenarnya dipengaruhi oleh suatu bagian di dalam otak kita yang bertanggung jawab mengendalikan mekanisme navigasi, pembelajaran dan juga memori. Bagian yang unik ini dinamakan hippocampus. bagian ini dibantu juga oleh suatu bagian lain yang bernama prefrontal cortex yang terlibat dalam kemampuan kita merencanakan dan membuat keputusan.

Penggunaan GPS Membuat Sistem Navigasi Otak Kita Menjadi Lemah

Suatu penelitian telah dilakukan oleh Professor Eleanor Maguire di UCL (University College London) memfokuskan pada sopir taksi di kota London yang berselirat dan bersimpang siur. Penelitiannya menunjukkan bagian hippocampus pada otak sopir taksi yang menjadi subjek penelitiannya adalah lebih besar dari masyarakat umum. Bagian ini menjadi lebih besar hasil dari mengingat banyaknya jalan yang ada di sana sini selama bertahun-tahun menjadi sopir taksi.

Baca juga :  Kalau Anda Punya Ciri-Ciri Ini! Anda Masuk Golongan Pria Tampan, Ayodibaca!

Ilmuwan telah mengidentifikasi tiga jenis sel di bagian hippocampus dan sekitarnya yang dikatakan bertanggung jawab dalam kemampuan navigasi kita yaitu place cells , head direction cells dan grid cells .

Penggunaan GPS Membuat Sistem Navigasi Otak Kita Menjadi Lemah

Place cells memberikan kita informasi di manakah kita sedang berada pada sesuatu waktu. Head direction cells pula berfungsi seperti kompas dan memberitahu kita ke arah manakah kita sedang mengarah. Grid cells pula memberitahu kita sudah berapa jauhkah kita sudah bergerak dengan mengaplikasikan sistem grid yang terdiri dari lintang dan bujur yang selalu kita jumpa di dalam peta.

Interaksi antara bagian otak yang terlibat dalam navigasi akan meningkat ketika kita sedang mencari jalan. Melalui mata kita, gambar atau tanda yang menentukan lokasi di mana kita berada akan disimpan di dalam memori sebagai referensi untuk digunakan jika kita melalui tempat yang sama berulang kali. Misalnya, SPBU, papan tanda hatta pohon mangga di depan rumah juga bisa dijadikan titik referensi.

Penggunaan GPS Membuat Sistem Navigasi Otak Kita Menjadi Lemah

Golongan browser pada zaman dahulu menggunakan keterampilan ini pada tingkat yang lebih tinggi dengan menggunakan bintang di langit sebagai titik referensi mereka. Sama seperti kita, pada awalnya mereka harus memerhatikan dan mengingat lokasi petanda-petanda ini. Bila sudah mahir, mereka sekadar menggunakan memori mereka untuk menentukan posisi dan arah yang harus dituju.

Penggunaan GPS Membuat Sistem Navigasi Otak Kita Menjadi Lemah

Perhatikan area sekeliling kita saat mengemudi akan memastikan informasi lokasi ini diperbarui dan disimpan dengan baik di dalam otak kita untuk penggunaan di lain waktu. Selalu kita jumpa situasi di mana yang akan ingat jalan adalah sopir itu sendiri sementara penumpang di sebelahnya tidak bisa mengingatnya karena mereka sibuk dengan ngobrol atau bermain dengan telepon pada masa itu.

Penggunaan Aplikasi Tampilkan Jalan

Penggunaan aplikasi seperti Google Maps dan Waze, bahkan memudahkan kita di waktu tertentu, itu membuat keterampilan navigasi yang sudah ada di dalam otak kita menjadi kurang aktif dan \’tumpul\’.

Penggunaan GPS Membuat Sistem Navigasi Otak Kita Menjadi Lemah

Adalah lebih mudah untuk mendengarkan arahan dari gadget kita yang dilengkapi sistem Global Positioning System (GPS) untuk membelok di tempat yang tepat dibandingkan mengawasi daerah sekitar dan menggunakan otak kita untuk menentukan apakah kita berada di lokasi yang tepat.

Penggunaan aplikasi-aplikasi ini secara berlebihan pastinya akan membuat kita kehilangan kemampuan alami kita sedikit demi sedikit. Mungkin suatu hari nanti, untuk pulang ke rumah sendiri pun kita harus mengharapkan Google Maps dan Waze.

Kuncinya, untuk menghindari ini terjadi, janganlah menggunakannya secara berlebihan. Bukalah mata dan telinga Anda agar kemampuan navigasi yang menakjubkan ini tetap bersama Anda.

Referensi: ScienceMag , BostonGlobe , MedicalXpress

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.