Pendidikan Tentang Keindonesiaan

Pendidikan Tentang Keindonesiaan, Ayo Kita Rawat Indonesia

Ada sebuah dialog yang cukup panjang antara saya dan Sarah, anak tertua saya, tentang Hari Perayaan yang berbeda, istilah Nabi dan Tuhan yang berbeda antara satu agama dengan agama lain. Dalam dialog itu saya jelaskan bagaimana sejarah kelahiran masing masing agama. Titik terpenting dalam dialog itu adalah soal kenapa kita berbeda, lalu bagaimana kita menyikapi perbedaan itu.

Pendidikan Tentang Keindonesiaan

Anak-anak biasanya saya paparkan kepada keragaman iman. Mereka saya perkenalkan secara ringkas tentang prinsip dasar ajaran agama lain, dan sudut pandang agama kita tentang ajaran-ajaran tersebut. Intinya adalah, kita memilih untuk mengimani suatu ajaran, demikian pula orang lain. Kita tidak ingin diganggu karena pilihan itu, demikian pula orang lain yang memilih iman yang berbeda dengan kita.

Agama hanyalah salah satu bentuk keragaman Indonesia. Ada lagi bentuk lain seperti suku, bahasa, adat, daerah, dan sebagainya. Anak-anak harus kita paparkan kepada keragaman itu, menyadarinya, dan lebih penting lagi, bersikap dengan benar terhadap keragaman tersebut. Menghayati keragaman adalah salah satu elemen penting dalam pendidikan tentang keindonesiaan yang saya berikan kepada anak-anak saya.

Kebangsaan? Nasionalisme? Kita sering lupa bahwa yang kita nikmati dalam hidup kita hari ini adalah hasil dari pilihan kita untuk hidup sebagai sebuah bangsa, dengan Pancasila sebagai ideologi, dan UUD 1945 sebagai konstitusi.

Ingatlah, ada berapa banyak bangsa yang hancur lebur, tidak aman, karena konflik internal maupun eksternal dengan bangsa lain. Bila kita berada dalam situasi itu, bagaimana mungkin kita bisa mengasuh anak-anak dengan baik? Demikian pula, kalau masa depan anak-anak kita nanti ternyata penuh konflik, mereka tentu tidak akan hidup bahagia. Karena itu, pendidikan tentang pentingnya merawat Indonesia yang damai dengan berbagai keindahan alam maupun budayanya adalah sesuatu yang tidak boleh alpa dari pendidikan untuk anak-anak kita.

Selain memaparkan anak-anak pada berbagai bentuk keragaman, saya juga mengajak mereka untuk memahami dan menghayati sejarah Indonesia. Berpergian saat liburan sering saya manfaatkan untuk mengajak anak-anak mengunjungi situs-situs sejarah, seperti Museum Nasional, Museum Satria Mandala, Museum Linggarjati, dan sebagainya.

Dalam setiap kunjungan selalu saya jelaskan kejadian sejarah terkait situs tersebut, dan arti pentingnya bagi kehidupan kita sekarang. Saya percaya bahwa rasa cinta kepada Indonesia dapat ditumbuhkan dari penghayatan terhadap sejarahnya.

Selain mengenal keragaman, dan sejarah Indonesia, penghayatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan juga sangat penting dalam usaha merawat keindonesiaan kita. Kemanusiaan adalah fondasi bagi perdamaian. Karena itu penanaman nilai-nilai kemanusiaan sangat penting untuk dilakukan kepada anak-anak. Anak-anak perlu diajak pada berbagai kegiatan berbagi kepada orang lain, memberikan bantuan kepada yang memerlukan. Sering saya bawa anak-anak menjelajah ke kampung-kampung, bertegur sapa dengan penduduk yang tidak mereka kenal sebelumnya, kemudian berbagi apa saja yang kami miliki saat itu, meski sekedar sebungkus makanan ringan.

Saya bahkan memaparkan anak-anak pada berbagai proses politik yang saya jalani. Kita sering bersikap apatis terhadap politik, karena muak terhadap perilaku para politikus. Tapi kita harus sadar bahwa tidak mungkin sebuah negara bisa berjalan tanpa politik. Maka sejak dini anak-anak saya ajari soal pentingnya proses politik, dan bagaimana politik yang sehat untuk membangun bangsa. Anak-anak saya ajak untuk ikut ke tempat pemungutan suara saat pemilu atau pilkada. Mereka juga saya ajak melihat kampanye partai-partai politik.

Begitulah. Pendidikan bagi anak-anak memang tidak sekadar soal bagaimana mereka bisa ini dan itu. Pendidikan adalah soal bagaimana memperkenalkan anak dengan berbagai sisi kehidupan yang kelak akan mereka jalani kelak.

***

Artikel ditulis oleh Hasanudin Abdurakhman: Doktor di bidang fisika terapan dari Tohoku University Jepang, kini bekerja sebagai General Manager for Business Development di sebuah perusahaan Jepang di Jakarta. Untuk Joy Parenting, dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan RI ke 71.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.