review jasa j&t

Kisah & Review Jasa J&T Oleh Pria Penyabar

Akhir-akhir ini terasa sekali banyak bermunculan jasa kurir baru yang semakin mewarnai pilihan jasa kurir di toko-toko online. Jika selama ini sudah tidak asing lagi di telinga kita dengan sesepuh kurir JNE, TIKI, POS. Maka sekarang bermunculan berbagai jenis merek kurir yang namanya ga jauh-jauh beda dari para legenda. Fokus kita sekarang adalah kurir J&T. Di mana ada review menarik yang dituliskan oleh salah seorang mantan pengguna J&T di fanspage J&T.  Walau dizalimi dengan pelayanan yang belum bisa dikatakan layak melayani pelanggan, namun dengan penuh kesabaran pria ini menjelaskan sekaligus memberikan pelajaran bagi jasa kurir. Berikut review Kurir J&T oleh mas Alfi :

Ada banyak kisah pada pengalaman pertama aku menggunakan jasamu. Aku memutuskan untuk mempercayaimu, sebuah keputusan yang takkan ku sesali sebab pada akhirnya ada pelajaran berarti yang menjadi pelajaran seumur hidup. Saat itu aku membeli barang via Tokopedia, aku memilihmu sebab aku sedang mengalami masa-masa suram bersama si Jelita Nan Elok, so ga ada salahnya memakai jasa pengantaran mas Deddy Corbuzier ini. Trust me, the only thing ensure me to use J&T service is the Deddy thing. Kuucapkan selamat untuk tim marketing, tugas mengalihkan kesetiaanku pada “jasa sebelah” berhasil setidaknya sekali ini. Tetapi divisi HR, pelayanan dan pelanggan atau apapun itu, punya PR maha besar saat ini. Here’s my story …

Pekan lalu kugunakan jasamu untuk mengirimkan barang elektronik, barang ini dikirim Rabu 1 Maret 2017 dari Jakarta ke Bandung. Hari Kamis tidak ada kejelasan darimu dan paketku tertahan di Bojongsoang sampai hari Sabtu, status resi diperbarui Jumat bahwa Kamis malam barang sudah sampai Bojongsoang, J&T terdekat ke alamatku. Hari Jumat tiada progress berarti kecuali status yang diperbarui, 【BOJONG_SOANG】sedang menjalankan【Simpan】scan. Ini kaya dia yang sering-sering posting foto selfie yang sama cuma beda caption kata-kata bijak doang, aku ga peduli.

Tahukah kamu ketika call center pusat ditelpon jawaban yang kuterima tidak memuaskan. “Ditunggu saja ya mas, hari Sabtu paling lama sampai”. Tanpa bisa memastikan sebab keterlambatan dan rekomendasi apa yang bisa aku lakukan selain menunggu. Hiks, menunggu itu menyakitkan, mas/mbak, jangan bikin aku menelan harapan palsu bilang barang dikirim tetapi gak sampai-sampai padaku. Itu sama saja mas/mbak memintaku menanti kepastian dia padahal dianya lagi sama yang lain dan gak nanggepin aku :'(

Sabtu sore kuputuskan menelpon call center Bojongsoang, sebab tiada pertanda barang mendekat, setidaknya sprinter atau call centernya menelponku untuk konfirmasi. Pertama kalinya engkau memberikan kepastian padaku, “Alamat bapak kurang jelas, sprinternya tidak tahu jadi belum dikirim, masih di gudang.” Wah, ini peluang, batinku, mungkin aku bisa memberikanmu penawaran untuk pelatihan “Penggunaan Smartphone dalam Optimasi Pengiriman Paket”, jadi kasus sprinter tidak tahu alamat seperti ini bisa diminimalisasi. Aku yakin, ini akan sangat membantumu.

Sejujurnya aku semakin paranoid setelah membuka fanpage ini. Betapa tidak, dari puluhan review dan komentar yang kubaca, kutelaah, dan kuresapi, 90%nya adalah keluhan dan protes disertai emosi jiwa. Yang entah apa penyebabnya, aku betul-betul merasakan emosi mereka ketika menggunakan jasamu. Mungkin apabila ada forum atau komunitas #MantanJnTygTersakiti akan banyak orang yang bergabung di sana. Dengan jumlah mantan yang banyak dan prediksi jumlahnya meningkat selama pelayananmu tidak kau perbaiki, forum ini bisa jadi menjadi saingan forum jomblo di Indonesia. Ahsudahlah, aku segera menyingkirkan pikiran buruk jauh-jauh dan berpikir siapa tahu kali ini engkau telah memperbaiki diri dan paketku baik-baik saja, dan kamu dengan tulus meminta maaf atas keterlambatan pengiriman yang terjadi dan berjanji takkan mengulanginya lagi. Namun, harapan itu sirna pula :'(

Aku putuskan bertandang ke tempatmu, ya, mendatangimu sambil menanyakan apa gerangan penyebab semua ini. Kunaiki kuda besiku menuju Bojongsoang pada hari Minggu. Petugasmu mempersilakanku menyebutkan nomor resi, lalu petugas sontak menyahut “Oh barangnya yang ini mas.” sambil menyerahkan paket itu. Aku terdiam sesaat. Menunggu ucapan maaf terlontar, atau setidaknya penyesalan atas kesalahan yang terjadi. Sebab saat kuperiksa identitas penerima, di situ tertera jelas nama, alamat lengkap sampai kode pos, dan nomor handphoneku. Udah, kita gitu aja? Kamu gak menghargai perjuanganku nyamperin ke Bojongsoang buat ambil paket yang harusnya kamu anterin tapi kamu alesan alamatnya gak lengkap? Dan kamu ga meminta maaf atas hal yang sudah kamu perbuat? Hiks. Aku memang selalu salah di matamu 🙁

Kiranya sampai di sini kisah kau dan aku, sebuah pengalaman berharga yang gak akan aku lupakan. Pertemuanmu denganku mungkin menjadi sebuah pertanda dan pelajaran berharga, bahwa kita memang tidak ditakdirkan bersama. Paket sudah kuterima tanpa ada cacat satupun, tetapi prosesku menanti berdebar-debar sampai akhirnya harus menjemput di mana engkau berada, nun jauh di sana. Tuhan menakdirkan kamu dan aku berjumpa sekali untuk berpisah selama-lamanya, terima kasih atas segala kenangan yang engkau berikan padaku.

Pengalaman memakai J&T Express Indonesia ini adalah pengalaman berharga sekaligus pertama dan terakhir kalinya. Aku tak bisa lebih emosi lagi saat iseng kubuka lamanmu dan kuketikkan resinya, di sana tertera dengan jelas pesan ini:
17:47【BOJONG_SOANG】sedang menjalankan【Simpan】scan
21:19【BOJONG_SOANG】sprinter【Ris** K******】sedang mengirim
21:41 sudah diterima, penerima adalah:【alfi】
Ya Tuhan, aku tak mampu lagi berkata apa-apa. Cukup sudah, terima kasih telah menjadi butiran debu dalam hidupku, segalanya takkan terulang kembali, kepercayaan itu takkan tumbuh kembali.

Bandung, 6 Maret 2017, sehari setelah aku menemuimu.

Review oleh Alfi Pangestiawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.