Kisah Berpindahnya Kiblat Dari Yerusalem ke Makkah

Rasulullah saw. dan umat Islam menunaikan shalat mereka dengan berkiblatkan Baitul Muqaddis atau Masjid al-Aqsha, kiblat pertama umat Rasulullah saw.

Masjid al-Aqsa dipilih karena Allah swt. memerintahkan Rasulullah saw. memilih kiblat umat Islam dari tempat yang suci dan bebas dari bangunan berhala atau tempat sembahan yang melanggar perintah Allah swt. Pada waktu tersebut, Masjid al-Aqsa adalah tempat yang lebih sesuai jika dibandingkan dengan Masjidil Haram karena dikabarkan di sekitar Masjidil Haram, ada 309 bangunan berhala yang masih disembah oleh orang Arab.

Wujud juga rasa gusar jika ada pihak yang akan mempermainkan isu jika Rasulullah saw. menjadikan Masjidil Haram sebagai kiblat, pihak-pihak penyembah berhala di sana akan mengatakan yang Rasulullah saw. sebenarnya mengakui berhala-berhala itu Tuhan dia.

Rasulullah saw. mengerjakan shalat dengan berkiblatkan Baitul Muqaddis sampai perpindahan mereka ke Madinah yang membuat Rasulullah dan umat Islam harus membelakangi Ka’bah, untuk menghadap Baitul Muqaddis.

Rasulullah saw. menyimpan rasa sayang yang amat sangat pada Kaabah karena sejarah Ka’bah yang dibangun oleh Nabi Ibrahim as. dan anaknya Nabi Ismail as. Membelakangi Ka’bah karena harus menghadap Baitul Muqaddis adalah sesuatu yang kurang disukai Rasulullah.

Selama lebih 16 bulan Rasulullah saw. berdoa setiap hari setelah terjadinya Hijrah supaya Allah swt. memberinya petunjuk untuk memilih arah kiblat yang terbaik bagi umat Islam, dari Baitul Muqaddis ke Baitul Haram yakni Ka’bah. Akhirnya Allah swt. memperkenankan permintaan Rasulullah saw.

Solat pertama yang dilakukan menggunakan kiblat menghadap Ka’bah adalah shalat Ashar yang didirikan di sebuah Masjid bernama Masjid Bani Salamah, karena dibuat di atas bekas rumah Bani Salamah. Ketika mengimami shalat Ashar tersebut, Malaikat Jibril menyampaikan wahyu kepada Rasulullah saw. dalam ayat 144 surah Al-Baqarah yang berbunyi.

“Sering kali kami melihat engkau (wahai Muhammad), berulang-ulang menadah ke langit, maka Kami benarkan engkau berpaling menghadap kiblat yang kamu sukai. Jadi palingkanlah mukamu ke arah masjid Al-Haraam (dudukannya Ka’bah); dan di mana saja kamu berada mukamu ke arahnya. dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (injil dan Taurat), mereka mengetahui bahwa hal (berkiblat ke Ka’bah) itu adalah perintah yang benar dari Tuhan mereka; dan Allah sekali -kali lalai akan apa yang mereka lakukan. ”

Allah swt. mengabulkan permintaan Rasulullah saw. ketika itu untuk mengubah kiblat orang Islam dari Baitul Muqaddis ke Ka’bah. Jemaah Islam pada hari itu menunaikan shalat Ashar 2 rakaat menghadap Baitul Muqaddis dan 2 rakaat menghadap Ka’bah atas perintah Rasulullah saw. dan peristiwa itu mengganti nama Masjid Bani Salamah menjadi sebagai Masjid Qiblatain atau ‘masjid dua kiblat’, akibat dari menjadi satu-satunya tempat di mana umat Islam melakukan shalat menghadap dua kiblat.

Bila diketahui perubahan kiblat orang Islam tersebut benar-benar terjadi seperti yang ditulis dalam kitab-kitab lama orang Yahudi, yang memprediksi akan muncul seorang pesuruh Tuhan yang mengubah kiblat umatnya dari Jerusalem ke situs rumah Nabi Ibrahim as., Pemimpin orang Yahudi pun beramai- banyak menemui Rasulullah saw. untuk menawarkan diri mereka memeluk Islam asalkan kiblat umat Islam dikonversi kembali ke Yerusalem.

Allah swt. memberi panduan kepada Rasulullah saw. untuk memenuhi penawaran pemimpin orang Yahudi itu dengan pesanan dalam ayat 145 surah al-Baqarah;

“Dan sesungguhnya jika engkau bawakan kepada orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab, akan segala keterangan (yang menunjukkan kebenaran perintah berkiblat ke Ka’bah itu), mereka tidak akan menurut kiblatmu, dan engkau pula tidak sekali-kali akan menurut kiblat mereka; dan sebagian dari mereka juga tidak akan menurut kiblat sebagian yang lain. sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah datang pengetahuan (yang telah diwahyukan kepadamu), sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk golongan orang-orang yang zalim. “

Begitulah sedikit sebanyak kisah peristiwa perubahan kiblat dari Yerusalem ke Masjidil Haram di Mekah yang sampai hari ini tetap menjadi kiblat umat Islam seluruh dunia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.