Press "Enter" to skip to content

Gejala Kanker Esofagus

Esofagus adalah pipa yang menghubungkan rongga mulut (mulut) ke lambung. Kanker esofagus dikaitkan dengan berbagai gejala, yang paling umum adalah disfagia. Ini adalah kanker paling umum ketujuh di dunia.

Gejala kanker esophagus

Disfagia

Gejala utama kanker esophagus adalah disfagia, yang berarti kesulitan menelan. Ini terjadi karena tumor membatasi esofagus. Saat menelan, mungkin terasa seperti makanan tersangkut di tenggorokan. Ini karena otot-otot esofagus harus bekerja keras untuk mendorong makanan melewati tumor.

Sebagai akibatnya, seseorang mungkin merasa perlu untuk mengunyah lebih lama, sehingga membuat potongan-potongan makanan menjadi lebih kecil, untuk memungkinkan makanan hasil kunyahan melewati tenggorokan lebih mudah. Pasien mungkin juga mengalami sensasi terbakar ketika mencoba menelan makanan. Saat semakin parah, disfagia juga terjadi saat meminum cairan.

Gejala umum lainnya dari kanker esophagus meliputi:

  • Regurgitasi makanan dan muntah.
  • Karena esofagus terletak di dada, kanker dapat meniru penyakit jantung atau paru-paru dengan munculnya nyeri dada.
  • Sering tersedak makanan yang disebabkan oleh disfagia.
  • Nyeri saat menelan – disebut odynophagia.
  • Heart burn dan acid reflux.
  • Muntah, yang kadang-kadang bisa berdarah.
  • Suara serak, dan batuk yang tidak kunjung sembuh dalam 2 minggu.
  • Sakit tenggorokan dan terasa tidak nyaman
  • Penurunan berat badan progresif dan kelelahan karena ketidakmampuan untuk makan.

Kapan pasien menjadi simtomatik?

Kanker esofagus dini sering asimptomatik, berkontribusi pada diagnosis yang terlambat pada banyak orang. Hal ini sangat disayangkan karena kanker kerongkongan pada tahap awal lebih mudah diobati.

Gejala muncul ketika tumor tumbuh dan menghalangi esofagus. Hanya ketika tumor telah tumbuh cukup besar untuk mempersempit kerongkongan dengan sekitar setengah lebar normalnya, gejala utama – kesulitan menelan – akan terjadi.

Apa faktor risiko yang dapat menyebabkan kanker esofagus?

Etiologi kanker esofagus belum sepenuhnya dipelajari. Namun, ada beberapa faktor, sebagian besar karena pilihan gaya hidup, yang tampaknya memainkan peran dalam patogenesis penyakit.

Merokok dan penggunaan alkohol yang berlebihan diyakini terlibat dalam meningkatkan risiko mengembangkan kanker esophagus, dan ini diyakini karena kerusakan yang disebabkan oleh kegiatan ini ke sel yang melapisi esofagus. Selain ini, minuman panas dan diet yang buruk juga dapat terlibat.

Sementara perut dibangun untuk menahan asam yang dihasilkannya, esofagus tidak. Sebagai akibatnya, pasien yang mengalami iritasi esofagus karena sering mulas berada pada risiko tinggi mengembangkan perubahan abnormal pada sel-sel esofagus.

Seiring waktu, perubahan ini dapat menyebabkan kanker. Selain dari gaya hidup dan gangguan kesehatan, usia, ras, dan jenis kelamin tampaknya memainkan peran. Orang yang lebih tua, pria, bule, dan orang gemuk tampaknya memiliki risiko lebih tinggi untuk mengembangkan kondisi ini.

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *