Cara Masyarakat Selandia Baru hormati Muslim yang berpuasa

Cara Masyarakat Selandia Baru hormati Muslim yang berpuasa

Hampir 4 tahun saya menetap di bumi Kiwi, Selandia Baru dan berpengalaman menghadapi bulan Ramadhan di sana. Perasaan saya, sudah tentu sangat asing tinggal di negara orang. Selain suasana dingin, perasaan rindu kampung halaman turut dirasakan. Bukan itu saja, perbedaan makanan, budaya, bahasa dan agama turut memberikan kesulitan dan membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri.

Kehadiran saya di sana adalah untuk menemani suami yang merupakan penuntut di Victoria University of Wellington. Saya mengambil kesempatan ini memenuhi waktu luang saya dengan melibatkan diri dalam pekerjaan sukarela. Saya bekerja di TK di bumi Selandia Baru ini dan memperoleh ilmu yang banyak dalam cara pembelajaran dan penyampaian mereka yang berbeda dari sistem Indonesia.

Masyarakat lokal hormati Muslim yang berpuasa

Masyarakat Selandia Baru yang berbilang kaum dikenal sebagai masyarakat yang bijaksana dan beradab. Mereka hidup aman dan damai. Mereka sangat beruntung karena memiliki negara yang indah dan dikenal sebagai salah satu surga dunia (karena keindahan alam).

Beberapa masyarakat lokal di sana yang bukan beragama Islam juga sadar dan tahu tentang Ramadhan. Mereka sangat menghormati masyarakat Muslim yang berpuasa dan ada juga yang bertanya kepada saya tentang ibadah berpuasa kita ini dan aspek-aspek lain terkait agama.

Antara masyarakat lokal yang saya kenal di sana sangat baik dan ramah. Jika mereka mengenali Anda dan mengetahui Anda sedang berpuasa, mereka tidak akan makan atau minum di depan kita. Itu hal yang patut dipuji walaupun sebenarnya saya tak kisah pun jika mereka makan atau minum di depan saya.

Di sana, waktu siang lebih pendek dari waktu malam. Pada waktu itu, saya sangat bersyukur karena waktu siang negara itu tidak panjang dibandingkan negara-negara barat yang lain seperti Inggris. Pengalaman berpuasa di bumi Kiwi sangat berbeda dari Malaysia.

Cara Masyarakat Selandia Baru hormati Muslim yang berpuasa

Tak banyak hal yang mengundang pengeluaran berlebihan

Pada saat itu, yang paling saya ingat adalah, Ramadhan lebih dihargai sebagai bulan menambahkan ibadah (mengendalikan nafsu dengan tenang) karena tidak ada iklan-iklan jualan murah hari raya seperti di Malaysia. Hahaha. Selain itu, tidak ada bazar di sana-sini, tidak ada rencana-rencana hiburan bertema Ramadhan dan paling best saya dapat bertarawih bersama saudara Islam berbeda ras (diantaranya Sudan dan Arab) tanpa mengharapkan moreh setelah shalat.

Persiapan menyambut kedatangan Idul Fitri ala kadar saja. Tidak ada baju raya baru maupun warna sedondon dengan pasangan. Bahkan, saya hanya menyediakan satu atau dua jenis biskuit raya pada saat itu. Di Wellington, kota saya tinggal, tidak ada masalah untuk membeli bahan baku yang halal karena ada sebuah toko daging halal yang diusahakan oleh orang Pakistan.

Bahkan supermarket di sana juga turut menyediakan daging-daging ayam yang halal untuk dibeli. Barang Asia termasuk barang keluaran Malaysia juga ada dijual seperti bumbu, bubuk kari dan barang lainnya.

Sederhana di bulan Ramadhan

Pengalaman hidup di sana adalah pengalaman yang sangat berharga bagi saya dan suami. Sampai sekarang kebiasaan ketika berada di sana masih dilaksanakan oleh kami sekeluarga yaitu bersederhana di bulan Ramadhan, tidak mudah terpedaya dengan iklan-iklan penjualan murah, dan hanya membeli sepasang pakaian saja untuk menyambut Idul Fitri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.